Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

Si Dungu Menyimpan Pahit Dalam Rindu

Aku kembali di tepian tebing berbatu

Melangkah sebagai Si Dungu

Seekor anjing putih berdengung tentang sesuatu

Apakah kau tahu

Kalau ia yang bodoh itu hanya melangkah lugu

 

Di hadapannya ia menyaksikan tak ada jurang yang mengancam

Tak ada dasar yang menyakitkan dan kelak menghantam tubuhnya penuh lebam

Melainkan samudera yang jadi tempatnya melarungkan setangkai mawar

Ya, ia akan memajukan kaki kanannya terlebih dulu

Untuk meninggalkan hal di masa lalu

Gelombang yang bertalu-talu betapa mereka serupa angkasa

Penuh awan dengan gumpal berbulu

Yang tak bisa juga kau sentuh

 

Tidakkah kau rasakan betapa samudera merekam banyak ilusi dunia?

Ombak yang berkejaran bagai gamelan bersenandung tentang rupa yang purba

Di pantainya, ada desir yang terlepas bagai angan yang terhempas

Cakrawala yang menjadi batas antara dua bayang-bayang

Senja yang tenggelam memantulkan sosok yang absurd pada gelombang

Si Dungu pun bertanya, di mana poros ia dan dunia

Di mana batas logika antara aku dan dirimu pada akal dan jiwa

 

Lalu, sepasang mata itu menjelma permukaan yang tenang dan dalam

Kala aku terbius pada damai yang tak akan mampu bertahan

Ada lengkung tipis di garis yang menjadi langit pipi tembam-mu

Kubayangkan senyum sedang merekah

Seketika itulah kugenggam pucuk yang mekar

Aroma manis yang mengingatkanku pada lembab saat gerimis

Berwarna putih dengan batang penuh duri

Sebuah rasa yang pahit ada dalam rindu

 

Tentu saja Si Dungu itu kemudian tenggelam

Ia cecap asin yang mengingatkannya pada rasa tubuhmu

Gurih yang padamu ia terbius

 

Di dalamnya, ia temukan banyak warna yang berbeda dari dunia

Betapa sulit memberikan narasi saat kau diselimuti warna warni

Makhluk-makhluk menjelma peri

Si Dungu berkelakar dalam ironi sebab ia punya angan menemukan kembali bidadari-nya yang pernah jatuh ke bumi

Ia lupa kalau laut tidak membuatmu jatuh

Melainkan tenggelam

Di perut raksasa biru ini, kau tak mati dengan cara berbaring

Seperti ia kelak akan melepehmu untuk menyembul keluar

Dungu, jangan sampai kau ditemukan mengambang

Dan menjadi bangkai di tepian

 

Dan di kedalaman, tibalah kau pada dasar yang sulit dijejak

Bahkan, tak kau temukan ia yang kau cari di sana

Si Dungu yang kehilangan arah

Tak lagi dapat didengarnya gendingan Jawa yang dapat membimbing dan menggetarkan jiwa

Waktumu hampir habis

Meski tak ada siang pada malam

Begitu pun sebaliknya

Di sini purnama memberimu ketenangan

Tanpa kau tahu ada keributan yang mengguncang pada angin yang mencengkram gelombang

 

Cahaya itu pun memberimu pertanda

Saat kau tak lagi bisa menatap angkasa

Bulan yang penuh jadi tersamar

Kau kehilangan kesempatan melihat tepian bulat yang sempurna

Bulan berubah gelombang yang menguning redup

Ia menjelma simetris tanpa batas

Ia menjelma sosok absurd yang magis dan tak lagi di atas

Lalu yang makhluk-makhluk temaram berkerumun

Mereka-lah yang tampak seperti bulan sedang terpecah

Menjulur sulur-sulur tembus pandang yang padanya kau ingin ikut terbang

 

Dan waktumu hampir habis

Bisik itu membikinmu malah tersenyum tipis

Sebab kau ingat ciuman malam terakhir itu begitu tawar

Lantas kau sadar, ia tak ada di dalam lautan yang memberimu rasa asin yang keterlaluan

Seketika itu kau menghempas tubuhmu menuju permukaan

Kau bergegas mengejar udara

 

Tidakkah ada kelegaan yang kemudian sulit sekali untuk bisa kau deskripsikan

Kala Si Dungu menjadi manusia yang kembali bernapas dengan kesadaran

 

Ia kembali nyata

Ia kembali menjadi kau yang manusia

Untuk melihat dunia

Ia yang memutuskan memang lebih baik menunggu saja datangnya pertengahan Januari yang segera tiba

Bukankah kau meyakini waktu yang sekadar persepsi belaka?

Begitu pun kau telah melihat betapa dalamnya samudera

Tidak kau temukan ia di sana

Sementara itu, kau bisa menikmati rindu dengan beragam rasa dan aroma

Seperti tubuhnya serupa kuil yang tak menyimpan kuasa

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About Nurdiyansah DalidjoAnak Baru

Traveler, writer, researcher, and beyond. Menikmati ketersesatan pada suatu perjalanan adalah hal yang digemari oleh Nurdiyansah Dalidjo. Pada buku sebelumnya yang berjudul Porn(O) Tour, ia mengkampanyekan isu #TourismEthics dalam bentuk travel writing yang ditulis secara populer.

Follow Me