Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

Saat Aku Menamaimu Embun

Tiba-tiba aku ingin menamaimu embun
Yang mengingatkanku ada dingin yang menjalar pada ujung kaki di kala pagi datang menghampiri
Seperti halnya aku tak pernah menduga kau datang dengan serbuk peri dan cahaya
Ketika pandora justru menampilkan celahnya saat sepasang botol terbuka
Kau gagal mendapatkan bir dingin
Tapi aku sedang ingin menikmati bir yang hangat
Kau bercerita tentang dunia
Sementara aku tak sedang ingin menggenggam dunia
Namun kutahu, ada rasa yang mungkin timbul begitu dalam saat kubayangkan dapat menggenggam sepasang pipi yang tembam
Kau bicara tentang batas-batas yang terlampau jarak
Di saat yang bersamaan waktu bagai ingin menjerat emosi yang kian sublim
Gairah hadir bersama kantuk
Kita habiskan tetes terakhir yang tersisa untuk melanjutkan perjalanan pada pengetahuan yang lebih dalam
Dan saat itulah tubuhku merasa bulu yang terkelupas dari sayapnya
Yang melayang terbawa angin untuk bisa kembali pada gravitasinya di bumi
Tak ada keringat di malam itu
Mengingatkanku sejenak pada butiran embun yang tersisa dari percumbuan hebat antara malam dan udara sebelum terang tiba di timur
Menelanjangi gelap yang menyisakan buih sisa persetubuhan

Aku ingin tetap menamai kamu embun untuk mengingatkan sisa pada kaca yang berembun usai air panas mengguyur tubuh yang baru saja tanak dan saling beradu hangat
Aku memaksa menamai kamu embun sebab kini malam telah tiba
Tak akan ada kamu pada esok yang tidak bisa kita tolak
Tapi aku tahu, ketika pagi kelak tiba, masih akan kunikmati embun
Yang hadir dengan Arjuna dengan gurat-gurat purbanya
Bagai aroma tubuh yang sakral sekaligus hadir sepasang dengan setan bernama rindu
Dingin yang menjalar usai azan Subuh yang datang tanpa sopan
Tapi di saat itulah embun seperti hendak menyampaikan pesan
Tentang kerumitan yang tak perlu dicari jawabnya
Kala aku hanya bisa lebur dengan pagi esok hari
Dan bisik sederhana yang terdengar lewat udara
Untuk bilang bahwa ada keniscayaan pada perjumpaan yang tak perlu kau duga

Apakah kau masih percaya ada embun pagi pada hingar bingar dan polusi di Jakarta?

Kau seperti ingin menolak yang di antara
Sambil melempar doa pada harapan yang begitu diinginkan seperti ia yang di sana bicara tentang hal yang melampaui batas-batas logika

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About Nurdiyansah DalidjoAnak Baru

Traveler, writer, researcher, and beyond. Menikmati ketersesatan pada suatu perjalanan adalah hal yang digemari oleh Nurdiyansah Dalidjo. Pada buku sebelumnya yang berjudul Porn(O) Tour, ia mengkampanyekan isu #TourismEthics dalam bentuk travel writing yang ditulis secara populer.

Follow Me