Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

Review ::: lilting (2014)

“Now something so sad has hold of us that the breath leaves and we can’t even cry.”

– Charles Bukowski, You Get So Alone at Times That it Just Makes Sense-

Sebuah kutipan dari Charles Bukowski membuka review kita kali ini. dan kenapa alasan mengapa mengutip kalimat bukowski tersebut? karena film ini tidak sekadar menguras air mata tapi juga menusuk hati. Sederhana tapi bisa kena kemana-mana.

Junn tan (Cheng pei pei) saat ini tengah dirundung duka cita yang mendalam dikarenakan kematian dari putra semata wayang-nya Kai yang meninggal karena sebuah kecelakaan. Junn merupakan seorang warga Cambodia yang sudah hidup lama di London namun ia sama sekali tidak mempelajari bahasa inggris, dan itu membuatnya susah untuk berkomunikasi dengan orang lain, mengingat satu-satunya yang mengajak ia berbicara dengan bahasa ibunya (* Junn menggunakan bahasa Mandarin) hanyalah Kai putra-nya. dalam kesendirian dan dipenuhi duka cita yang mendalam, Richard ( Ben Whishaw) yang Junn tahu adalah teman ‘dekat’ dari Kai mengunjunginya ke rumah panti jompo tempat Junn tinggal saat ini. Richard sebenarnya adalah kekasih Kai, namun Kai belum sempat memberitahukan ibu-nya bahwa ia seorang Gay.

Pertama kali-nya Richard mengunjungi Junn, berlangsung sangat canggung dan ‘krik…krik…krik’, karena Junn tidak mengerti bahasa inggris dan Richard tidak mengerti bahasa Mandarin. Di saat itu juga Richard baru tahu bahwa Junn tengah dekat dengan seorang lelaki tua bernama Alan ( Peter Bowles) yang juga tinggal di panti jompo itu. Richard melihat kedua orang tua tersebut mengalami masalah komunikasi juga dimana Alan tetap mengoceh dengan bahasa inggris dan Junn tetap mengoceh dengan bahasa mandarin.

Richard memutuskan untuk menyewa seorang penterjemah, dan bertemulah ia dengan Vann (Naomi Christie) ia menjelaskan pada Vann bahwa Vann akan menerjemahkan ibu dari seorang teman ‘spesialnya’ yang baru-baru ini meninggal dunia. keesokkan harinya Richard dan Vann mengunjungi Junn lagi. Richard memperkenalkan Vann (* pastinya dengan bantuan Vann menerjemahkan ke dalam bahasa mandarin) pada Junn dan juga Alan bahwa Vann akan membantu menerjemahkan untuk Alan dan juga Junn. Junn bertanya mengapa Richard melakukan semua ini dan Richard hanya berkata bahwa ia hanya ingin membantu.

Meskipun sudah ada Vann sebagai penterjemahnya, Junn tetap saja merasa sedih dan mengingat-ingat kenangan Kai, dan begitu pula dengan Richard. di berbagai kesempatan Richard sangat ingin sekali memberitahu Junn yang sebenarnya, bahwa Kai adalah kekasihnya karena itu adalah hal terakhir yang sedang Kai usahakan (* sebelum ia mengalami kecelakaan, Kai juga sudah berulang kali berusaha mengatakan hal sebenarnya *come out as gay person**) dan kecelakaan tersebut membuat Kai tak bisa mengatakan hal itu.

Simple, romantic, hurt/heart warmer (?), full of meanings. Mr. Hong Khaou (Sutradara) menceritakan kisah ini dengan sangat cantik, dan men-detail sampai bunga Hydrangea yang berada di film ini pun ada makna tersembunyi-nya (* you have to watch this movie frist, and after that search for the meaning of Hydrangea). Film ini benar-benar membuat hati tergelitik untuk mempelajari ilmu komunikasi budaya, komunikasi antar pribadi, dimana kita melihat bagaimana seorang ibu yang hanya tinggal seorang memiliki anak semata wayangnya sebagai keluarganya, bagaimana Richard menghadapi masalah come out Kai dan lain-lain. Di sini kita melihat bagaimana mereka ( Richard dan Junn) berusaha memahami kesedihan dari kehilangan Kai.

Grief, Sorrow, rasa berkabung setelah orang yang kita sangat cintai pergi memang selalu ada dan sangat susah kita hilangkan tapi kita tidak bisa hidup dalam kesedihan dan duka cita, karena mereka yang meninggalkan kita untuk menghadap pada sang Kuasa tidak ingin melihat orang yang mereka tinggalkan terus menerus bersedih. Kita yang ditinggal-kan harus tetap berusaha menjalani hidup ini.

“Through plenty of crying, I’ve learnt to be content that I won’t always be happy, secure in my loneliness, hopeful that I will be able to cope. Every year on Christmas Day I get very lonely. An incredible feeling of solitude. On this day, everything has stood still, even the trees have stopped rustling, but I’m still moving, I want to move, but I have nothing to move to, and nowhere to go. The scars beneath my skin suddenly surface and I get scared. Scared of being alone.” Junn Lilting movie (elm)

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About imamieMulai Gaul


Follow Me