Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

Review : Film dan Pencarian Jati Diri

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk menonton film-film yang kebetulan ber-genre drama. Dan secara eksplisit tema, mengambil kisah tentang kehidupan lesbian. Dan sayangnya dari ketiga film itu, tak satu pun buatan dalam negeri. Ketiga film itu adalah  Imagine Me & You, Carol, dan Blue is the Warmest Colour. Masing-masing film ini memiliki tema besar yang bisa dibilang hampir sama, yaitu pencarian jati diri tokoh utama terhadap orientasi seksual mereka.

Imagine Me & You (2006)

imagine_me_and_you_xlgRachel dalam Imagine Me & You dikisahkan baru saja menikah dengan Heck. Sahabat yang pada akhirnya ia nikahi. Di hari pernikahannya, ia bertemu dengan Luce, seorang florist yang menata bunga untuk pernikahan Rachel. Sebelumnya proses komunikasi Luce untuk membantu melakukan penataan terhadap pernikahan Rachel adalah ibunya Rachel langsung. Singkat cerita, Rachel mulai merasakan ketertarikan terhadap Luce, terlebih setelah Rachel mengetahui bahwa Luce adalah lesbian. Namun, kebimbangan besar melanda Rachel karena ia tidak ingin menyakiti Heck. Meski demikian, Rachel tidak dapat melawan kehendak dirinya untuk mencintai Luce. Heck melepas Rachel dan membiarkannya memilih Luce. Pertentangan pilihan Rachel berasal dari ibunya sendiri. Namun, pertentangan ini ditunjukkan dengan warna komedi sehingga terkesan tidak memberikan nuansa kelam di sepanjang film ini berlangsung.

Blue is the Warmest Colour (2013)

la_vie_dadele_ver2_xlgAdele dalam Blue is the Warmest Colour adalah seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA. Ia bertemu dengan Emma secara tidak sengaja. Suatu ketika, Adele mengalami mimpi basah dimana di dalam mimpinya dia melakukan hubungan seks dengan Emma. Saat itu, Adele masih belum begitu mengenal Emma, dia hanya terpesona dengan rambut biru dan mata tajamnya Emma sewaktu keduanya berpapasan tanpa disadari. Adele pernah sekali melakukan hubungan seks dengan pria dan ia merasa tidak begitu cocok dan menikmati. Pernah  tanpa direncanakan, ia dicium oleh teman perempuannya di sekolah dan ia mulai merasa tertarik dengan perempuan. Singkat cerita, Adele berhasil bertemu dan berkenalan dengan Emma. Sejak saat itu, mereka mulai berhubungan dan tinggal bersama hingga Adele lulus SMA dan mengajar di TK. Meski demikian, Adele merahasiakan hubungannya tersebut terhadap kedua orang tuanya, teman-teman sekolahnya hingga teman-teman kerjanya. Meski pada akhirnya Adele dan Emma putus karena beberapa hal. Adele tetap dalam posisi yang membuat dirinya bingung. Meski Adele menyadari dirinya lesbian, namun ia tidak bisa menunjukkan ke teman-temannya apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya.

Carol (2015)

carol_ver3_xlgCarol adalah seorang perempuan paruh baya yang sedang berada di ambang perceraian dengan suaminya dan perebutan pengasuhan anak perempuannya, Rindy. Carol bertemu dengan Therese pertama kali di sebuah toko mainan. Sejak saat itu (setelah kejadian sapu tangan), mereka sering bertemu dan menjalin komunikasi. Meski pada awalnya saya pikir mereka hanya akan bertindak seperti seorang teman yang sama-sama kesepian. Namun, cinta yang belum pernah mereka rasakan dan alami membawa mereka pada perjalanan panjang menuju Chicago. Carol kabur menenangkan diri sebelum pada akhirnya dilakukan negosiasi putusan untuk hak asuh Rindy. Dia mengalami depresi antara berusaha mengikuti kehendak suaminya untuk tidak lagi menyukai perempuan dan ia mendapatkan Rindy atau melepaskan Rindy dan hidup bersama Therese. Meski pada akhir cerita, Carol memutuskan hak asuh diberikan kepada suaminya karena ia tidak ingin membohongi dirinya yang lebih mencintai Therese.

Mengenali identitas diri

Ketiga film ini menceritakan pergulatan batin masing-masing tokoh utama untuk menerima diri mereka dan perjuangan eksistensi diri mereka di tengah-tengah masyarakat. Bagi saya, film ini merefleksikan pergulatan tiap-tiap individu LGBT untuk menerima diri mereka dan pengorbanan terberat dalam hidup mereka untuk misalnya kehilangan anak, keluarga dll. Setiap orang memiliki kisahnya masing-masing dan perjuangannya masing-masing, namun kisah ini tidak hanya terjadi di dalam film tapi bisa juga di dunia nyata.

Meski demikian, saat ini di Indonesia sudah banyak wadah organisasi LGBT yang dapat mendukung untuk mencari informasi terkait LGBT. Keyakinan mayoritas membentuk kesadaran bahwa kebenaran berada di sana. Namun, pada hakikatnya garis tipis antara kebenaran dan keyakinan mayoritas sangat tipis. Keyakinan mayoritas ini pada akhirnya mendiskriminasi individu-individu yang misalnya memiliki keyakinan berbeda, misalnya menyukai sesama jenis.

Bagi saya, perjuangan mengenal diri sendiri adalah proses seumur hidup. Maka perjuangan itu tidak bisa disama-ratakan antara individu yang satu dengan yang lainnya. Menjadi LGBT adalah bagian dari perjuangan mengenal diri sendiri. Memulai bergabung dengan komunitas yang dirasa cocok dengan pencarian ini, adalah bagian dari proses perjuangan itu sendiri. Kamu tidak sendirian, karena ada banyak teman-teman lainnya di luar sana yang juga sama dengan dirimu. Saya ucapkan, selamat tahun baru 2017 dan selamat untuk mengenali dirimu lebih dalam. (Fai)

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About imamieMulai Gaul


Follow Me