Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

PMS pada Lesbian: Mungkinkah?

Oleh: Dai Aesyaeswari

PMS dan Lesbian? Jelas kedua hal tersebut sangat lekat. Bukankah sudah merupakan anggapan umum bahwa sebagian besar perempuan mengalami ketidakseimbangan hormon beberapa hari menjelang menstruasi, yang acap mempengaruhi kondisi fisik dan emosionalnya, termasuk dalam hubungan percintaan? Karena pada dasarnya kedua agen dalam hubungan lesbian adalah perempuan, masalah dalam relasi yang berkaitan dengan siklus bulanan itupun pasti menjadi berlipat ganda.

Sayangnya di sini kita tidak sedang bicara mengenai Pre-Menstruation Syndrome. Ya, kita bicara mengenai PMS yang lain. Kita bicara mengenai Penyakit Menular Seksual, atau istilah lainnya Sexually Transmitted Disease (STD).

Jadi, PMS pada Lesbian: Mungkinkah?

Jika pertanyaan tersebut diajukan, mungkin sebagian besar orang akan langsung mengerutkan dahi. Penyakit Menular Seksual di kalangan lesbian? Mana mungkin itu terjadi? Tidak ada seks yang bersifat penetrative berarti tidak ada cara penyakit seperti HIV/AIDS atau semacamnya bisa menular, bukan?

Permasalahannya, PMS tidak hanya mencakup penyakit yang bisa ditularkan dengan perantara atau dengan penis sebagai agen yang bersifat proaktif di dalamnya. Malah, penetrasi antara penis dan vagina atau anus hanyalah dua dari sekian metode yang berpotensi menularkan penyakit seksual. Kontak antara vagina dengan vagina, kontak antara vagina dengan mulut, kontak antara vagina dengan jari, kuku, atau benda lain juga dapat beresiko. Sayangnya hal ini kerap tidak disadari oleh para lesbian. Akibatnya,  banyak lesbian yang kurang menaruh perhatian tentang praktik seksual yang sehat dan aman.

Sebagaimana dinyatakan oleh situs thesisters.org.uk, ada berbagai penyakit  yang bisa ditularkan dengan kontak antar perempuan. Akar penyebabnya pun beragam, mulai dari alergi, jamur, kutu, bakteri, hingga virus.

Salah satu penyakit yang paling umum adalah alergi, biasa ditemukan di dalam vagina dan di sekitar vulva. Simptom yang ditemui seperti kemerahan, gatal-gatal, dan keluarnya cairan, menjadikan penyakit ini acap disangka sebagai keputihan dan dianggap remeh. Alergi biasanya timbul karena kontak dengan benda atau zat tertentu, misalnya lateks atau pelumas. Mayoritas alergi memang tidak membahayakan nyawa, tetapi tetap menimbulkan rasa tidak nyaman.

Selain alergi, ada juga beberapa penyakit kelamin yang disebabkan oleh jamur. Salah satu contohnya adalah candidiasis, infeksi yang diakibatkan oleh berkembangnya jamur candida di luar batas normal. Ada sekitar 20 tipe candida yang dapat menyerang berbagai anggota tubuh, di antaranya  kuku, esofagus, lidah, daerah sekitar anus dan alat kelamin, serta saluran pencernaan. Jika menyerang vagina, jamur ini dapat menyebabkan gatal-gatal, rasa terbakar, bau tak sedap, dan keluarnya cairan kental kekuningan. Candidiasis  sendiri tidak dianggap sebagai penyakit menular seksual, tetapi keberadaannya sendiri dapat menjadi tanda infeksi lain yang lebih serius.

Banyak penyakit dan infeksi vagina yang menular lewat sentuhan, yang menyebabkan lesbian berada pada titik yang riskan. Bakteri, virus, dan kutu dapat menjadi agen dalam penularan penyakit ini. Beberapa masih berada pada taraf cukup jinak, seperti Bacterial Vaginosis dan Trichomoniasis, misalnya, yang masih bisa diobati dengan antibiotika. PubicLice dan Scabies, dua penyakit yang diakibatkan oleh kutu, membutuhkan pengobatan yang lebih serius, tetapi keduanya puntidak memiliki akibat jangka panjang yang berbahaya. Meski demikian, bukan berarti kita bisa begitu saja menganggap enteng penyakit ini. Pada dasarnya, “infeksi ringan” sendiri adalah istilah yang menjebak, karena sekecil apapun sebuah penyakit, efek sampingnya dapat berujung pada kondisi lain yang lebih serius. Menurunnya produktivitas karena merasa terganggu, misalnya. Terlebih, beberapa virus dan bakteri memiliki waktu perkembangan yang cepat dan daya tahan yang kuat, hingga bahkan dapat menular melalui berbagi pakaian dan mandi bersama.

Tidak semua penyakit yang ditularkan lewat sentuhan bisa dikategorikan sebagai penyakit ringan. Chlamydia dan Peradangan Rahim, alias Pelvic Inflammatory Disease (PID), misalnya, yang dapat mengakibatkan kemandulan. Human Pappiloma Virus (HPV) acap dikaitkan dengan kanker serviks, bahkan syphillis dapat menyebabkan dampak serius pada organ tubuh seperti otak, jantung, ginjal, mata, bahkan sistem neuron. Sentuhan secara langsung dengan area yang terinfeksi menjadi salah satu metode penularan penyakit, selain tentu saja seks penetratif yang tidak aman, misalnya berbagi mainan seks tanpa kondom, misalnya pada kasus Syphillis dan Gonnorhea.

HIV/AIDS sangat langka terjadi di kalangan lesbian, tetapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Beberapa cara penularan yang menjadi tersangka antara lain melalui darah menstruasi, cairan vagina, dan beberapa metode hubungan seksual yang bisa menimbulkan pendarahan, baik disengaja maupun tidak.

Beberapa Penyakit Menular Seksual di kalangan lesbian memang tidak seseram yang terjadi di kalangan heteroseksual atau gay, tetapi bukan berarti bisa dipandang remeh. Pastinya kita tak pernah ingin pasangan atau diri kita sendiri malah tertular penyakit, ketika salah satu fungsi dari hubungan seksual adalah untuk mengekspresikan kasih sayang, bukan? Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran akan perilaku seksual yang aman. Pemakaian kondom jari, tidak berbagi alat bantu seksual, serta pemakaian lubrikasi yang tepat dan tidak mengundang alergi merupakan beberapa cara preventif yang bisa dilakukan. Sebaiknya juga kita menghindari perilaku seksual yang dapat menyebabkan luka atau dilakukan ketika sedang terluka. Selain itu, baik pula bagi kita untuk rajin menjaga kebersihan diri dan alat intim serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan?

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About imamieMulai Gaul


Follow Me