Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

Diantara Cita dan Cinta

Menginjakkan kaki di salah satu Ballroom Hotel di salah satu bilangan kota Jakarta untuk menghadiri sebuah diskusi publik yang digelar awal tahun ini, “Aku belum pernah datang ke acara sebesar ini!” Ya, ini ada kali pertamanya seorang Fadel menghadiri acara sebesar ini. Dia sangat antusias sekali ketika bertemu dan berkenalan dengan teman-teman sesama aktivis lain.

Pandangannya fokus pada para pembicara di panggung. Sesekali ia mengangguk atas beberapa pernyataan dari pembicara mengenai situasi dan kondisi yang tengah dihadapi oleh kawan-kawan LGBTIQ di se-antero Indonesia dan masalah-masalah yang mereka hadapi, terkadang ia berbicara kepada teman yang duduk disampingnya dan tersenyum kecil dengan ocehan teman disampingnya.

Saat mendengar ada pesta di malam harinya, Fadel agak gugup dan merasa salah tempat dan kostum, “aku ini sebenernya ga terlalu suka yang rame-rame.” Logat jawa Fadel yang masih kentara menandakan ia bukan berasal dari daerah sekitar Jakarta. Ia merupakan salah satu mahasiswa fakultas sastra korea di salah satu Universitas Negeri di Jawa Tengah yang tinggal bersama dengan teman-teman kuliahnya dalam satu rumah kontrakan. Fadel asli Solo, kisah ini berawal dari Kota Kelahirannya.

Ketertarikan itu muncul ketika Fadel masih belum mengerti apa arti kata cinta, apalagi kata homoseksual. Fadel menceritakan salah seorang teman lelakinya semasa kecil. Sebut saja Eric. Fadel dan Eric sudah berteman sejak mereka masih di taman kanak-kanak, awalnya Fadel kecil hanya sebatas mengagumi Eric tapi lama-lama ada muncul rasa senang ketika tangan Eric menggenggam tangan Fadel dan mengajaknya bermain bersama.

Ga tau kenapa… lama-lama aku jadi seneng dan malu-malu.. pas Eric megang tanganku, ngajak aku main, dan dia juga berubah, sikapnya ke aku.”

Ia tersenyum simpul ketika mengingat kejadian-kejadian manis bersama Eric, dilihat dari cara ia menceritakan sosok Eric, semua pasti tahu bahwa ia menyukai Eric.

“diumur segitu, mana aku tahu tentang homoseksual. Perasaan yang muncul itu bener-bener sangat natural.”

Fadel pun meneruskan ceritanya kembali, ia dibesarkan dalam sebuah keluarga yang konservatif. Ayahnya merupakan salah satu pengurus dari sebuah organisasi keagamaan di lingkungan tempat Fadel tinggal. Ayahnya memiliki sifat yang keras dan juga disiplin. Fadel dididik menjadi seorang pemuda yang religius, cerdas, dan santun. Apalagi Fadel adalah anak pertama dan laki laki, saat melihat perilaku Fadel yang agak kemayu,

ayahku sendiri ngatain aku banci , waktu itu”

Ayahnya langsung memasukkannya ke klub sepak bola, padahal Fadel sama sekali tidak bisa bermain bola, “itu yang bikin jadi semakin minder, dan gak percaya diri.”

Fadel di waktu itu, tak pernah tahu mengapa ayahnya memanggilnya banci, hingga di kelas lima sekolah dasar, ia baru mengetahui bahwa ketertarikannya pada laki-laki itu dinamakan homoseksual,

aku tahu dari buku LKS (Lembar Kerja Siswa) Agama di sekolah. Dan disitu tertulis homoseksual adalah hal yang berdosa dan dilarang oleh agama, yang pada saat itu aku imani. Aku langsung nangis.”

Mulai dari saat itu, Fadel mencoba dengan sangat keras untuk tidak menekan ketertarikannya dengan laki-laki dengan rajin beribadah, banyak cara yang ia lakukan termasuk pacaran dengan banyak perempuan ketika ia masuk ke jenjang SMP.

Seberapa keras pun aku mencoba, pacaran dengan cewek bahkan making out dengan cewek, tetep aku gak bisa menekan rasa ketertarikan pada laki-laki, aku emang suka laki-laki.”

Di kelas dua SMA, Fadel akhirnya dapat berdamai dengan dirinya, waktu itu ia berkata pada dirinya

Aku orang yang rajin beribadah,aku tidak pernah melanggar perintahnya, jadi aku berpikir aku pasti akan mendapatkan tempat yang pantas disisi-Nya, jadi waktu itu aku berkomitmen aku tidak akan melakukan hubungan seksual sebelum aku menikah dengan laki laki, dengan suamiku.” Tegasnya.

Selepas berdamai dengan dirinya, dari situ Fadel dapat menjalin hubungan dengan lelaki lagi. Tentu saja batu kerikil tak habis disitu menjadi penghalang di hidup Fadel. Berprinsip seperti itu dalam menjalin hubungan sangatlah sulit untuk lelaki yang Fadel temui dalam hidupnya. Sudah 2 orang lelaki yang singgah dan tidak bisa meneruskan hubungan bersamanya dengan prinsip yang dia yakini.

Harapan Fadel mendapatkan pasangan yang mengerti tentang prinsipnya, terkabul saat ia bertemu dengan De.

Fadel menggambarkan sosok De dengan terkekeh kecil, De benar-benar lelaki impian Fadel, dan yang paling membuat Hati Fadel melambung adalah, De ingin menikahinya, karena keluarga De sudah tahu bahwa De adalah seorang gay.

Aku ga mau kehilangan dia, karena masa depan yang aku bangun sama cowok ini udah sangat indah buat aku. Akhirnya aku memberikan apa yang dia pinta,” Itu hubungan seksual pertama Fadel yang dilakukan secara bertanggung jawab dengan seorang laki-laki.

Tapi gak lama setelah itu, De ngilang gitu aja”

Dan De pun kembali masuk ke dalam daftar lelaki yang pernah singgah di hati Fadel, namun berbeda dari lelaki lain, De benar-benar menghancurkan hati Fadel. Bahkan sempat terlintas dibenak Fadel untuk mengakhiri hidup, prinsip yang dibangun selama ini dengan mudahnya hancur luluh lantak. Ditinggalkan begitu saja tanpa ada kata putus ataupun pernyataan bahwa hubungan mereka berdua telah usai. Fadel mengaku waktu itu adalah salah satu moment terkelam yang pernah ia alami dalam hidupnya.

Dari berbagai pengalaman hidup yang Fadel lalui, dia berusaha untuk bisa kembali lagi bangkit dari keterpurukan seperti sedia kala. Dengan menghadiri kegiatan-kegiatan semacam diskusi dan sampai akhirnya, saat ini Fadel bergabung dengan salah satu organisasi yang mengangkat isu Hak Asasi Manusia bagi kelompok LGBTIQ sembari merencana apa yang ingin dia lakukan kedepannya. Fadel membekali diri dengan banyak informasi terkait keberagaman dan seksualitas untuk bisa membantu teman-teman LGBTIQ lainnya.

Aku rencananya pengen lanjutin studi. Aku tertarik sama Antropologi.”

Bagaimanapun juga, menjadi diri sendiri dan bisa bergerak bersama akan lebih baik untuk tujuan yang lebih baik.(Elm)

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About imamieMulai Gaul


Follow Me