Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

Sebuah Surat Untukmu

Menjadi pelajar di SMA adalah masa-masa indah ketika saya dan teman-teman saya bisa bercerita tentang kakak kelas yang keren, berprestasi dan menjadi pujaan banyak siswi di sekolah. Dari lorong-lorong sekolah selalu berhembus tentang betapa gantengnya, pintarnya, murah senyumnya dan menawannya kakak kelas tersebut. Setiap dia lewat, saya dan teman-teman saya hanya terpaku melihat dan bingung mau berbuat apa. Bahkan peristiwa ini juga diabadikan di sinetron-sinetron Indonesia yang setiap malam menghiasi kanal-kanal televisi.

Tapi, beberapa tahun ini saya sadari, saya melakukan itu agar saya memiliki perbincangan yang sama dengan teman-teman perempuan lainnya. Kenyataannya, saya justru nyaman duduk lama-lama dan mendengarkan gurauan dan cerita gundah gulana kakak kelas perempuan saya yang sudah memiliki pacar laki-laki pada saat itu. Saya tidak mengerti pada saat itu kenyamanan itu tumbuh secara berbeda dan saya hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat. Baru beberapa tahun ini saya menyadari mungkin bukan sahabat maksud hati ini kala itu, mungkin lebih dari itu. Rasa dicintai dengan orang yang kita cintai tak pernah ada kata yang mampu melukiskannya. Banyak lagu, puisi, dan roman yang menggambarkannya. Namun itu pun masih mengalami keterbatasan ungkapan, karena saya yakin kamu tahu bahwa kita hanya perlu merasakannya. Mungkin kamu juga pernah mengalami hal-hal itu. Saya tahu, kamu lebih paham rasa ketertarikan itu yang terkadang tidak kamu mengerti apa yang salah dengan dirimu.

Selama proses pembelajaran hidup ini, saya akhirnya yakin bahwa itu bukan kesalahan. Saya tahu tidak mudah untuk menerima itu. Proses ini bisa ribuan hari berlalu hingga akhirnya saya yakin. Meski sudah yakin sekalipun, belum tentu juga saya sanggup menjalani tantangan berikutnya. Namun seperti yang disebutkan Einstein dalam quotenya yang sering kamu temukan dimana-mana. “Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” Kehidupan itu seperti mengendarai sepeda. Untuk membuatnya seimbang, kamu harus tetap bergerak. Saya sadar, saya tidak hanya bisa menangisi diri saya dan takut untuk bergerak menjadi apa yang saya inginkan. Saya harus bergerak mencari tahu karena saya tahu bahwa saya tidak sendirian menghadapi ini.

Perjumpaan saya dengan teman-teman yang mendukung, memberikan kekuatan bagi saya untuk menjadi diri saya. Saya menyukai perempuan meski saya adalah perempuan bukanlah suatu hal yang aneh. Saya bertemu dengan teman-teman gay lainnya, mendengarkan cerita perjuangan mereka, membaca banyak referensi artikel dan buku, serta mendalami berbagai pengetahuan dari ilmu pengetahuan hingga pendapat agama sekalipun. Bagi saya, menjadi lapar akan pengetahuan dan membiarkan logika saya yang memilih adalah jalan bagi saya memahami apa yang sedang terjadi dengan diri saya. Kamu mungkin tahu, kamu tidak seberani itu. Sayang, yang bisa membahagiakan dirimu adalah dirimu sendiri. Lakukan hal-hal yang membuatmu bahagia, karena awal dari pencarian kebahagiaan adalah harapan.

Kita berani untuk hidup karena memiliki harapan. Harapan itu dibentuk dari apa-apa yang kita percaya. Namun, ketika tulisan ini dibuat pun, saya sadar betapa jauhnya saya dengan kamu. Jika kamu ada di samping saya saat ini, saya akan memelukmu dan berkata: semua akan baik-baik saja. Kamu akan baik-baik saja.(Fai)

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About imamieMulai Gaul


Follow Me