Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

Panggil Saya Salmon

Dia lebih senang dipanggil Salmon, bukan karena dia suka ikan Salmon, tapi dia hanya nyaman dengan nama itu. Agak aneh tapi begitulah dia. Ketika bertemu dengannya untuk pertama kali, ia seperti remaja putri muslim biasa, memakai baju berlengan panjang, celana panjang dan yang pasti hijab yang menutupi kepalanya. Ia terlihat pendiam, namun ketika mulai berbicara dan akrab, Salmon berubah menjadi seorang yang memiliki cara pandang berbeda dari kebanyakan remaja putri seumurannya.

“I am an asexual and aromantic .. well i don’t know i just can’t picture myself with someone,” ujarnya. Dibesarkan di lingkungan keluarga yang sangat konservatif, merupakan hal yang berat bagi Salmon ketika ia sadar ia sangat berbeda dari seluruh anggota keluarganya. “Tuh liat anaknya si A seumur kamu udah mau nikah… biar terhindar dari zina, makanya kamu cepet-cepet nikah kak!! nanti …” ucap salmon menirukan gaya berbicara ibunya ketika tengah menasehatinya untuk menikah muda, dan menjadi seorang istri yang solehah. Pada kenyataannya Salmon sangat tidak menyukai konsep-konsep seperti pacaran, apalagi menikah.

Eksplorasi diri yang terhambat

Awalnya Salmon menempuh jalur pendidikan formal di sekolah biasa, namun karena ada alasan tertentu saat dia duduk di kelas 4 SD, Ia memilih berhenti bersekolah di sekolah formal, dan orang tuanya pun memilih jalur Home Schooling hingga menginjak kelas 3 SMA saat ini. “Home schooling-nya milik pemerintah, jadi aku cuma daftar buat ujian-ujiannya aja, kalo belajar ya aku belajar di rumah aja.”

Ini semakin membuat dirinya terkekang, tidak tahu harus bercerita kepada siapa ketika ia memiliki pemikiran yang sangat berbeda dari keluarganya. Bercerita pada keluarganya? Mendengar kata LGBT saja orang tua-nya sudah berteriak, “itu kaum kafir, kita harus jauh-jauh dari mereka,” padahal yang mereka teriaki salah satunya adalah anaknya sendiri, si Salmon.

Secara tidak langsung ia sangat terkucilkan di dalam keluarganya sendiri. Apalagi ketika ia menghadiri acara pengajian atas suruhan orang tua sebagai perwakilan, Salmon seperti Alien yaang baru datang ke sebuah planet yang tidak dikenal, asing.

Beruntunglah ada sosial media, yang mempertemukan dirinya dengan berbagai macam teman yang memahami dirinya. Walaupun hanya berbicara melalui Facebook, dari media tersebut, Salmon bisa berekspresi sesuai dengan apa yang ia inginkan. “Disana gak ada topeng, kalo di dunia nyata topengku berlapis lapis.”

“Gua takut, kalo gua ngomong ke mereka gua aseksual, mereka bakal nikahin gua secara paksa, dan gua ga mau berakhir seperti itu.”

Jika ditanya apa yang sangat ingin Salmon lakukan adalah, “gua pengen bebas!” kata bebas adalah salah satu hal yang diinginkannya, terucap sangat mudah, namun bagi Salmon, melepaskan diri dari kekangan orang tuanya adalah hal yang cukup sulit. “Abisnya mau keluar rumah aja susah banget, jadi ya mungkin suatu saat gua akan bebas tapi gak dalam waktu dekat ini!” Walaupun ia sedikit ragu, tapi ia percaya suatu saat ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu merasa takut.

“Kebahagiaan itu bisa dicari dimana aja, bahkan di tempat yang paling gak lazim sekalipun, kayak internet, walau di kehidupan gua saat ini, gua nggak bahagia, tapi seenggaknya dengan internet gua bisa menemukan kebahagiaan kebahagiaan kecil.” (Elm)

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About imamieMulai Gaul


Follow Me

Comment ( 1 )

  1. waw menarik