Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

Hikayat Tanduk Menjangan “Betina”

Oleh: Rebecca Nyuei

Tak lekas bosan ku pandang lekat pantulan diri dari air di telaga saat jingga menggelayut di barat. Betapa tidak, telaga adalah cermin semesta yang tak pernah ingkar akan kebenaran. Entah sudah berapa ribu kali ku pandang pantulan citra dalam beningnya. Ah, Aku memang tak pernah melihat cela. Aku begitu cantik dengan menjadi diriku sendiri.

Menjangan. Mereka menyebutku demikian. Pesonaku kadang memang tak terhindarkan. Baju ku nan lembut kuning keemasan dengan motif berbintik putih. Leher dan kaki kecil ku yang jenjang menambah nilai pada diriku. Ketika ku berjalan seakan seisi rimba raya ingin menerkam ku.

Mata penguasa rimba selalu membaca gerik tubuh ku yang anggun, ku tahu apa yang dia pikirkan. Dia selalu mengincar kaki dan leherku untuk di cabik dengan taring buas nya. aku tak tahu apa permasalahan nya. yang jelas, kata menjangan lain mereka memang amat membenci kami.

Pernah satu ketika, penguasa rimba itu tetiba melompat dari balik rimbun semak. Sontak aku terkaget sekaligus gemetar. gemetar melihat taring nya yang begitu menakutkan. Taring yang mulai menguning, runcing pada ujungnya yang dilumuri liur.

“Hai menjangan bodoh, tak kah kau lihat betapa gagah nya taring tajam ku,” seru sang penguasa sambil menyeringai garang.

“Kau memang mahluk lemah, punya tanduk tangguh tapi tak kau pergunakan dengan sebagaimana mestinya,” ejeknya dengan tertawa lebar.

“Kau tau wahai makhluk kecil nan lemah, sejujurnya kau sepantas nya memang dimakan, dicabik dan dihilangkan dari rimba raya.”

“Dengan tingkahmu yang begitu, meruntuhkan citra yang gagah akan semua makhluk yang bertanduk dan bertaring, kau melecehkan martabat kegagahan.”

Aku coba tak menghiraukan ocehnya yang makin menjadi-jadi, aku terus berlari kencang sejauh yang aku mampu. Aku takut dan sedih bukan karena dibenci sang penguasa rimba. Aku sedih dengan seisi rimba yang tak ramah lagi denganku. Bahkan rumput pun ikut mengejek. Seolah dia yang paling baik karena selalu disapa embun. Pinus pun tak henti berkicau dan tertawa mencemooh.

Entahlah, kebencian itu bermula saat aku mengatakan aku adalah betina. Padahal menurut mereka Itu adalah sesat besar yang tak termaafkan. Mereka berkata, Aku bukanlah betina,karena kelenjar susu ku tak membesar, Aku adalah menjangan jantan, terlihat dari tandukku yang tangguh. Saat tanduk ini tumbuh menjulang dan bercabang, Semestinya aku bertingkah gagah.

Bukankah yang mengenal diri kita secara utuh adalah diri sendiri? Mereka tak akan paham memang dengan apa yang aku rasakan. Tanduk yang tangguh tidak semestinya mengharuskan aku menjadi jantan, ini perkara rasa dan apa yang aku yakini. Toh bagai manapun mereka bicara. Aku akan tetap percaya pada air di telaga. Telaga bening yang tak pernah ingkar, telaga yang senantiasa menunjukkan siapa aku yang sebenarnya.

————-

Lamunanku buyar, tatkala selembar daun jatuh menggoyahkan citraku dalam telaga.

(*bersambung)

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About imamieMulai Gaul


Follow Me