Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

Let’s Help Mami Yuli accomplish her Doctorate Degree in Constitutional Law

English Version
(Read in Bahasa Indonesia below)

THE HIGH COST THAT CAN FAIL
HER FINAL STEP

Donate Via GoGetFunding

“With the education, we will no longer be underestimated. To those who always think that the trans-women only belong by the side of the road and at the red light will be able to see, no matter difficult the pressure that is given to us, we will definitely be able to pass it. The high education that I have achieved now is not only for me, but for the entire trans-women community, for all Indonesian people. So that we are all aware that education is our absolute right as the citizen. “

That was Mami Yuli’s motivation when she explained how education she has achieved until this point was not achieved easily. The struggle by the struggle continues to be faced and its success was pursued in various way to inspire the transgender community and the Indonesian people in achieving their vision.

Yulianus Rettoblaut as known as Mami Yuli, 57 years old, is a trans-woman (transgender woman) who has a Bachelor’s Degree of Law from Attahiriyah Islamic University. She then continued her Master’s Degree at the Faculty of Law, Tama Jagakarsa University, South Jakarta, with the best citation (A+) and 3.85 GPA for 2.5 years. At that point, she was dubbed as the first transgender in Indonesia who was able to obtain a Master’s Degree in Criminal Law.

Not only that, Mami Yuli continued to pursue her dream and vision, and is recorded as a Doctorate Program Student at the Faculty of Law, Jayabaya University, majoring in Constitutional Law. Mami Yuli wants to be a living proof for her community that trans-women also has the ability and can perform well like her.

“Trans-women, aside from being a marginalized society, are also the citizen who are consciously and openly often impoverished by the prevailing system in this country,”according to Mami Yuli. Since 1979 until 17 years have passed, Mami Yuli has lived and worked in the streets, faced various forms of stigma, violence and discrimination from various parties including the society and the state. At that time, Mami Yuli was moved and she thought that the transgender community should not live on the streets forever. An empowerment program that is specifically aimed at the community is needed. For decades, Mami Yuli has struggled as an activist in empowering the community to get legal protection and their rights as the citizen, until this moment. “This law in Indonesia never sided with us as the transgender,” Mami Yuli continued.

Mami Yuli is recorded as the initiator of the establishment of the Rumah Singgah Waria (Transgender Shelter) which is recognized internationally as the world’s first Transgender Nursing Home, later became an inspiration for transgender organizations in other countries to pay more attention to elderly transgender people.

In the recent years, the usual assistance for the Rumah Singgah has decrease, even the Ministry of Social Affairs which previously provided support is no longer providing aid as a result of the increasing hostility towards the LGBTI community lately. Mami Yuli was forced to think extra hard for two things she loved, her education and the Rumah Singgah.

Currently, Mami Yuli can barely accomplish her Doctorate Education due to financial challenge. In fact, just a step further, the Doctorate degree can be a pride for the trans-women community in Indonesia. But the situation said otherwise, the Doctorate public exam which became one of the conditions for obtaining the degree, turned out to require a huge cost. Mami Yuli must prepare at least US $6,750 or Rp. 100,000,000 (a hundred million rupiahs) to be able to carry out the exam.

This is the real condition of the education system in Indonesia, with all efforts to impoverish citizens who are already impoverished by the system itself.

Let’s Help Mami Yuli to get her Doctorate Degree in Constitutional Law, to inspire all citizens to get their rights, especially the right to a decent education, and also to give ways for Mami Yuli to continue her struggle, for the transgender community in Indonesia, as well as for all Indonesian people in general. And in time, we will all be a part of the success of Mami Yuli as the first and the only Transgender in Indonesia today, w

ho is able to obtain a Doctorate Degree in Constitutional Law.

Your US $1 donation can help Mami Yuli continue to work for the transgender community in Indonesia. Contact Mami Yuli: +6281315400628

Donate Via GoGetFunding

Versi Bahasa Indonesia

LANGKAH AKHIR YANG TERANCAM GAGAL KARENA BIAYA

Donasi via KitaBisa.com

“Dengan Pendidikan, kita tidak akan lagi dipandang sebelah mata. Mereka yang selalu berpikir bahwa waria (transpuan) itu tempatnya hanya dipinggir jalan dan di lampu merah akan bisa melihat, bagaimanapun sulitnya tekanan yang diberikan kepada kita, kita pasti akan mampu melewatinya. Saya sekolah tinggi-tinggi seperti ini bukan cuma untuk saya, tapi untuk seluruh komunitas waria, untuk seluruh masyarakat Indonesia. Agar kita semua sadar bahwa Pendidikan adalah hak mutlak kita sebagai warga negara.”

Demikian motivasi Mami Yuli ketika menjelaskan betapa Pendidikan yang diraihnya hingga titik ini tidaklah dilalui dengan mudah. Perjuangan demi perjuangan terus dihadapi dan diupayakan keberhasilannya melalui berbagai cara untuk dapat menginsipirasi komunitas waria serta masyarakat Indonesia dalam meraih cita-cita.

Yulianus Rettoblaut atau akrab dipanggil Mami Yuli, 57 tahun, seorang transpuan (transgender perempuan) yang meraih gelar Sarjana Ilmu Hukum dari Universitas Islam Attahiriyah. Dia kemudian melanjutkan pendidikan Magisternya di Fakultas Hukum Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta Selatan, dengan predikat terbaik (A+) dan IPK 3,85 selama 2,5 tahun. Pada titik itu, dia dijuluki sebagai transpuan pertama di Indonesia yang mampu meraih gelar Magister Hukum Pidana.

Tidak berhenti sampai di situ, Mami Yuli terus mengejar mimpi dan cita-citanya. Mami Yuli tercatat sebagai Mahasiswa Program Doktoral pada Fakultas Hukum Universitas Jayabaya. Di perguruan tinggi tersebut Mami Yuli menekuni bidang Hukum Tata Negara. Mami Yuli ingin menjadi bukti hidup bagi komunitasnya bahwa transpuan juga punya kemampuan dan bisa berprestasi seperti dirinya.

“Waria (transpuan) itu, selain sebagai masyarakat termaginal, juga sebagai warga negara yang secara sadar dan terang-terangan kerap dimiskinkan oleh sistem yang berlaku di negeri ini,” menurut Mami Yuli. Sejak 1979 hingga 17 tahun berlalu, Mami Yuli pernah menjalani hidup dan bekerja di jalanan, menghadapi berbagai bentuk stigma, kekerasan, dan diskriminasi dari berbagai pihak termasuk masyarakat dan negara. Pada masa itu Mami Yuli tergerak bahwa komunitas transpuan tidak boleh hidup di jalan untuk selamanya. Dibutuhkan program pemberdayaan yang secara khusus ditujukan bagi komunitasnya, puluhan tahun lebih Mami Yuli berjuang sebagai aktivis pemberdayaan komunitas transpuan untuk mendapatkan perlindungan hukum serta hak-haknya sebagai warga negara, hingga detik ini. “Hukum di Indonesia ini tidak pernah berpihak pada kita sebagai waria,” lanjut Mami Yuli.

Mami Yuli juga tercatat sebagai penggagas terbentuknya Rumah Singgah Waria yang diakui oleh internasional sebagai Panti Jompo Waria pertama di dunia yang kemudian menjadi inspirasi bagi organisasi-organisasi transgender di negara lain untuk lebih memberi perhatian terhadap transgender lanjut usia.

Beberapa tahun belakangan bantuan yang biasa didapat untuk Rumah Singgah Waria ini semakin berkurang, bahkan Kementerian Sosial yang sebelumnya memberi dukungan sudah tidak pernah lagi mengucurkan bantuan sebagai dampak atas meningkatnya kebencian terhadap komunitas LGBTI belakangan ini. Mami Yuli terpaksa harus memutar akal ekstra keras untuk dua hal yang dicintainya, Pendidikannya dan Rumah Singgah Waria.

Saat ini Mami Yuli terancam tidak dapat menyelesaikan Pendidikan Doktornya karena ketiadaan biaya. Padahal tinggal selangkah lagi gelar Doktor tersebut dapat menjadi kebanggaan bagi komunitas transpuan di Indonesia. Namun keadaan berkata lain, Sidang Terbuka yang menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar itu ternyata membutuhkan biaya yang sangat besar. Mami Yuli harus menyiapkan sekurang-kurangnya 100.000.000 (seratus juta rupiah) untuk dapat melaksanakan Sidang Terbuka.

Beginilah kondisi nyata sistem Pendidikan di Indonesia, dengan segala upaya memiskinkan warga negara yang sudah termiskinkan oleh sistem itu sendiri.

Mari Bantu Mami Yuli meraih Gelar Doktor Hukum Tata Negara, untuk menginspirasi seluruh warga negara dalam mendapatkan hak-haknya khususnya hak memperoleh pendidikan yang layak, sekaligus memberi jalan bagi Mami Yuli untuk terus melanjutkan perjuangannya, bagi komunitas transpuan di Indonesia, serta seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya. Dan pada saatnya nanti kita semua akan menjadi bagian atas keberhasilan Mami Yuli sebagai Transpuan Pertama dan satu-satunya di Indonesia saat ini yang mampu meraih gelar Doktor Hukum Tata Negara.

Rp. 10.000,- donasi anda dapat membantu Mami Yuli terus berjuang untuk komunitas transgender di Indonesia. Contact Mami Yuli: +6281315400628

Donasi via KitaBisa.com

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About andiordiAnak Baru

A Scientist in Psychology (to be), freethinker, Human Rights supporter, blogging for leisure, reading list collector, HSP individual, etc.

Follow Me

Comment ( 1 )

  1. […] More info: https://yana.aruspelangi.org/cause/lets-help-mami-yuli-accomplish-her-doctorate-degree-in-constituti… […]