Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

Lintah Ditelan Ular

Ketika malam melepas bebas sebuah lintah pada peraduan

Rasa haus membuat hewan yang liat itu kehausan

Ia menghisap seperti tak ada puas yang bisa ditemukan

Ia mengembung semaunya seperti otaknya tak pernah padat

Kau bisa teringat bayi yang dengan rakus menghisap asi ibunya tanpa kenal malu

 

Lihatlah ia tak henti menghisap

Yang rakus mulai membesar tak tahu diri

Ia ingin kulitnya membasah

Ia mulai menyadari ada hal yang membuatnya tak kuasa menahan muntah

 

Dan lintah itu menemui yang ular

Dengan lidah bercabang yang menjulurkan aroma gurih untuk ia bisa cecap

 

Sang ular yang lihai tak sekadar memberinya liur untuk ia berbagi hasrat

Yang melata itu menuntunnya pada sebuah gua

Yang gelap, pekat, untuk bisa memberinya sebuah nikmat

Ular berbisik agar ia bertamu pelan-pelan

Merasakan perlahan pada tirai yang kian tersibak

Pada lorong yang tanpa sinar

Di mana malaikat melepas sayapnya dan setan-setan berpendar dalam cahaya

 

Ada desah yang terlepas pada setiap langkah

Ada geliat yang terhempas pada setiap gelisah

Kau berada dalam gelap yang basah

Dan lintah itu merayap menuju yang paling senyap

 

Aaahhhh…. ular itu melihat lintah yang tak hanya membesar, tapi kian mengeras usai ia merampas yang paling berbisa

 

Aaahhh… ular itu menikmati ada hal yang terlepas ketika lintah mulai punya akal menyadari sebuah pengetahuan dari yang paling gelap dan pekat sekali pun

 

Aaahhh… ular itu hanya tahu bagaimana caranya merasakan ada hal yang lezat pada lintah yang kenyang dengan menghisap

 

Sebentar lagi ia akan muntah, begitu pun sang ular hendak berpetuah tentang ia yang merengkuh semesta dengan angkuh

 

Diam-diam, ular menemui saat yang tepat untuknya menelan lintah yang mencapai bentuk sempurna

Binatang lembek yang tak punya otak, melainkan otot untuk bisa dikulum seenak jidat

 

Ular itu membuka rahangnya lebar-lebar

Menampilkan taring yang meneteskan cairan ranum

Lintah melihat kerongkongan itu dengan kagum

Ia tahu ia tak punya pilihan untuk tidak terpesona pada hawa yang membuatnya meyakini surga

 

Aaahhh…. giliran lintah yang mendesah ketika ia bisa menikmati otot-otot pada perut yang terlampau liat

Saat lintah masih mampu bertahan menghisap cairan asam yang justru membuatnya haus sebelum hancur

Juga luluh pada pelukan hangat dalam dekapan tubuh ular yang kini mengembung puas

 

Lintah yang tak malang

Sebab ia tahu pilihannya tak pernah sia-sia

Ataupun ia sesali setelah ia bisa mengintip yang surgawi di dunia

Kala ular dan lintah berada dalam satu tubuh

Yang tak pernah bisa kau pastikan: adakah kelak yang mungkin mampu tumbuh?

 

Setelahnya, sang ular memuntahkan lintah yang tak lama kemudian, lintah ikut memuntahkan cairan yang akan membuatnya punya kesempatan untuk kembali menghisap

Kembali muntah

Kembali tertelan

Kembali mengunjungi gua di mana malaikat telanjang tanpa sayap dan setan menampilkan cahaya

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About the AuthorAnak Baru

Traveler, writer, researcher, and beyond. Menikmati ketersesatan pada suatu perjalanan adalah hal yang digemari oleh Nurdiyansah Dalidjo. Pada buku sebelumnya yang berjudul Porn(O) Tour, ia mengkampanyekan isu #TourismEthics dalam bentuk travel writing yang ditulis secara populer.