Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

The Wolf

Oleh Kelvin Atmadibrata.

Beberapa hari yang lalu saya sempat menonton sebuah karya puisi Kevin Kantor yang berjudul “People You May Know” di sebuah website. Puisi emosional tersebut dibacanya dengan hampir meneteskan air mata karena menceritakan kejadian ketika ia menemukan lelaki yang pernah memerkosanya di bagian “People You May Know” di Facebook. Untuk Kantor, melihat foto si pemerkosa membawanya kembali ke alam trauma, mengingatkannya kembali ke masa-masa suram dan dari nada sang penyair, sangat jelas kalau dia bergejolak. Marah terhadap si predator, polisi dan juga atas ketidakhadiran pertolongan ketika masa sulit tersebut. Kantor menamakan pria yang sempat menjadi mimpi buruknya The Wolf, dan saya akan meminjam ungkapan tersebut untuk memanggil kedua pria yang pernah mengeksploitasi saya secara seksual.

kevin kantor

Kevin Kantor

Ketika saya berumur 16 tahun, seusai tamat SLTP di Jakarta, saya dikirim oleh orang tua untuk melanjutkan sekolah ke Singapura, sebuah keputusan beliau yang saya sangat berterima kasih. Sebagai seorang pemuda yang sudah menyadari dan mengakui dirinya sebagai seorang homoseksual, tinggal jauh dari mereka berarti sebuah kebebasan. Apalagi saya selalu menginginkan untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah khusus laki-laki. Setelah tidak diberi ijin untuk mencoba Kolose Karnisius, satu-satunya boys school di Jakarta, tidak sulit bagi saya untuk menganggukkan kepala dengan kegembiraan ketikanya diberi pilihan ke luar negeri. Akhirnya, saya berhasil mendapatkan bangku di Anglo-Chinese School dan di negara mungil itulah saya mulai berkesperimen dalam laboratorium seksualitas.

Banyak orang yang menasihati saya bahwa untuk sekolah ke Singapura merupakan pengalaman berharga, karena pendidikan disana dicap jauh lebih bagus dari Indonesia. Awalnya saya skeptikal namun walaupun saya setuju, yang membuat saya tumbuh menjadi diri saya sekarang justru kebebasan yang saya tuturkan tadi. Kebebasan yang saya manfaatkan sebisa mungkin dan pada akhirnya, saya belajar banyak dari itu. Tapi pada saat yang bersamaan, kebebasan itulah yang membuat saya tereksploitasi secara seksual oleh dua orang yang berbeda.

Peristiwa pertama terulang beberapa kali. Sebelum adanya Grindr atau Jack’d dan aplikasi sosial setaraf lainnya, di pertengahan tahun 2000-an, kita masih menggunakan Microsoft Messenger ataupun mIRC untuk berkenalan dengan orang lain, dan tentunya, berkenalan semakin berisiko karena anonimitas sangat susah dikendalikan. Beberapa bulan setelah saya masuk sekolah, saya berkenalan dengan banyak orang melalui internet. Saking banyaknya sampai saya tidak ingat berapa laki-laki yang sudah saya berikan alamat apalagi nomor telefon genggam. Waktu itu saya masih menginap dengan seorang wali dan seorang laki-laki, The Wolf #1 sempat mengancam saya untuk mengadukan orientasi seksual pribadi saya ke wali tersebut. Pria tersebut berjanji untuk membungkang rahasia jika saya setuju untuk bertemu dengannya di ruang publik, yakni tangga sebuah apartemen dekat dimana saya tinggal. Ketika bertemu, The Wolf #1 langsung memaksa saya untuk melorotkan celana dan langsung melakukan oral seks. Kejadian ini berlangsung selama tiga kali sampai saya memberanikan diri untuk tidak membalas SMS atau telefonnya.

The Wolf #2 merupakan seorang yang tidak pernah saya lihat. Mungkin saya pernah berpapasan dengannya tapi ketika saya direkam sehabis berbilas setelah berenang, saya tidak pernah menyadarinya. Tiga tahun yang lalu saya sempat dikejutkan dengan beberapa teman yang tiba-tiba memberitahukan adanya video telanjang saya yang beredar, untungnya tidak secara masif, di media sosial, terutama Tumblr. Uniknya, The Wolf #2 tidak hanya merekam kejadian di ruang ganti saja tetapi mengikuti saya sepulang sekolah dan merekam semuanya di dalam video tersebut yang kemudian di edit secara lumayan menarik. Sampai saat ini, saya masih menerima pesan cemas dari teman-teman yang baru saja menonton video tersebut.

Secara pribadi saya tidak pernah mempermasalahkan kedua The Wolf ini. Berbeda dengan Kantor, dan juga korban pelecehan seksual maupun pemerkosaan lainnya, dua kejadian tersebut tidak menimbulkan trauma dalam diri saya. Kejadian pertama justru membuat saya lebih berhati-hati ketika berkenalan, memperbaharui keberanian dalam mengekspresikan perbedaan orientasi seksual karena kejadian tersebut memberikan pelajaran yang berkesan hingga sampai sekarang. Video yang dibuat The Wolf #2 berhasil saya download dan saya berkenan untuk merubahnya sebagai karya seni. Dari kedua respon ini, saya berasa beruntung atas luka mental yang tidak terjadi pada saya. Mungkin karena saya melihat diri saya cukup kuat dan jika dibandingkan dengan apa yang dialami oleh orang lain, mereka mungkin lebih menderita. Sehingga orang-orang seperti Kantor sangat patut dihargai keberaniannya.

Saya jarang bercerita tentang kejadian ini tetapi ketika diminta untuk menuliskan artikel pendek mengenai Youth dan LGBT di Indonesia, saya merasa banyak kaum muda yang mungkin menempati posisi yang mirip dengan saya. Kita yang datang dari luar daerah atau propinsi lalu menetap di Jakarta, maupun di luar negeri. Kita yang memilih jauh dari orang tua demi kebebasan dan masih dalam umur eksperimentasi puberitas. Kita yang berani mencoba dan beresiko. Kita yang bertanya-tanya tanpa mendapat jawaban diinginkan. Kita yang berbeda dengan lainnya dan tidak berdaya.

Rape atau pemerkosaan, dalam bentuk apapun adalah sebuah perbuatan keji. Pelecehan seksual dalam bentuk apapun tidak dapat ditoleransi. Saya tidak meminta para korban untuk berdiam diri, tetapi berani menceritakan dalam bentuk apapun. Kreatif, maupun fiksional. Faktual walaupun puitis. Sayangnya, di Indonesia dan juga di berbagai negara, laki-laki hampir tidak dapat dianggap sebagai korban pemerkosaan dan pelecehan seksual. Pria dianggap sebagai predator dan pemegang kekuasaan atas konteks gender dan power. Menurut saya, persepsi ini patut ditantang agar dapat menjadi solusi pemerkosaan atas lelaki. Terkadang, menjadi korban tidak selalunya menjadi yang lemah.

Kantor mengatakan, “I call him the wolf when I write about him. The wolf, so as to make him as storybook as possible….” Begitu pula saya memanggil mereka the Wolf, karena di akhir cerita, serigala yang biasanya mencerminkan kelicikan dan kejahatan, selalu dikalahkan dengan si korban yang tidak bersalah.

“No one comes running for young boys who cry rape” tutur Kantor.

That’s why we have to run for ourselves.

Sumber:

Watch: “When My Rapist Showed Up Under The People You May Know Tab On Facebook”, Dana Bolger, Feministing, 2015

 

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About the AuthorMulai Gaul