Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

Review Film ::: Kiss Me (2011)

Kita sering mendengar ungkapan, “Jika cinta berbicara, apapun terasa indah”. Mungkin itu ungkapan yang cocok untuk merangkum bagaimana film Kiss Me diproduksi. Kiss Me adalah film Swedia yang dibuat pada tahun 2011 dengan judul Swedia Kyss Mig. Film ini berkisah tentang Mia, seorang Arsitektur yang telah berpacaran selama 7 tahun dengan Tim. Mia dan Tim adalah pasangan heteroseksual yang telah bertunangan dan berencana segera menikah. Namun, semua itu berubah ketika Mia bertemu dengan Frida di sebuah acara pertunangan kedua orang tua mereka. Mereka akan menjadi saudara tiri. Perasaan itu muncul ketika Mia dan Frida melakukan liburan bersama di sebuah pulau kecil di Swedia, Fyn. Mia mau ikut berlibur ke sana karena ayahnya menjanjikannya untuk ikut berlibur juga. Namun, ternyata mendadak ayahnya tidak bisa ikut. Sehingga hanya Frida, Mia dan Ibu Frida.

Mia memiliki karakter yang cukup tidak ramah terhadap orang, sedangkan Frida memiliki karakter yang sebaliknya, mudah bergaul dengan orang lain. Melihat sikap Mia yang kurang ramah, Ibunya Frida meminta Frida untuk menjadi teman bagi Mia. Frida menuruti itu. Frida mengajak Mia jalan-jalan ke tengah hutan untuk melihat sekumpulan rusa. Namun, tidak disangka ternyata Mia mencium Frida dengan penuh perasaan. Frida pada saat itu telah coming out sebagai lesbian dan memiliki pasangan sendiri. Frida cukup terkejut dicium oleh Mia. Mia setelahnya mengakui bahwa ia sendiri tidak memiliki maksud apa-apa mencium Frida. Namun, Frida tidak berhenti di sana, ia tetap mencari tahu mengapa Mia mau menciumnya. Sayangnya, hubungan mereka menjadi renggang, karena Mia sendiri galau dengan sikapnya. Mia memutuskan untuk pulang ke rumahnya yang berbeda kota dengan tempat tinggal Frida.

Siapa menyangka, ternyata Mia menghampiri Frida di tempat kerjanya setelah beberapa bulan mereka terpisah. Frida sendiri sudah putus dengan pacarnya saat itu. Frida merasa terkejut namun juga senang. Mereka menghabiskan weekend bersama. Di sana Mia secara jujur mengatakan bahwa ia mencintai Frida. Serta mengakui bahwa sebelum bersama Tim, ia pernah cukup dekat dengan seorang perempuan. Perempuan yang juga ia cintai seperti Frida. Di sini, terjadi pergulatan hati Mia. Mia berulang kali mengatakan bahwa ia lebih suka hidup seperti di dalam kotak sepatu. Hanya ada Mia dan Frida tanpa dipusingkan dengan pandangan orang lain tentang mereka sebagai pasangan lesbian. Namun, Frida tidak menginginkan itu. Baginya, ia ingin Mia juga menunjukkan dirinya kepada dunia bahwa ia adalah lesbian.

Tim pun akhirnya tahu bahwa Mia mencintai Frida. Tim tentu saja sangat marah dan tidak menerima itu. Namun, keputusan Mia sudah bulat untuk memilih Frida. Mia pun bertemu dengan ayahnya. Ia curhat mengenai pilihannya tersebut dan mengatakan alasannya kenapa sebelumnya ia ingin menikah dengan Tim. Berikut kutipan percakapan antara Mia dan Lasse (ayahnya Mia) yang (menurut penulis) begitu hangat.

Mia: Saya pikir alasan utama kami (Mia dan Tim) akan menikah karena setiap orang mengharapkan itu. Apakah kamu malu dengan saya?

Lasse : Saya hanya ingin kamu bahagia dan sehat.

Mia : Saya tidak berpikir bahwa saya memiliki pilihan. Inilah saya.

Lasse : Apakah menurutmu ini adalah kesalahan saya?

Mia : Apakah ini harus menjadi kesalahan orang lain?

Lasse : Mengapa Frida?

Mia : Karena saya mencintainya.

Sebelumnya Lasse tidak bisa menerima bahwa Mia menyukai Frida. Lasse sempat kesal dengan Ibunya Frida ketika diberitahukan bahwa kemungkinan Mia adalah lesbian dan menyukai Frida. Lasse adalah salah satu orang yang menolak orientasi seksual Frida. Kini, ia sendiri harus berhadapan bahwa Mia, anaknya sendiri, juga adalah seorang lesbian. Tentu ini bukan hal yang mudah bagi Lasse.

Sebagai bentuk refleksi penulis sendiri, sepertinya melihat film ini akan membawa kita kepada ruang bagaimana proses penerimaan diri sekaligus penerimaan keluarga ketika mengetahui bahwa ada salah satu anggota keluarganya adalah lesbian. Tentu jika dibandingkan dengan keluarga-keluarga di Indonesia, tidak mudah untuk melihatnya. Swedia sebagai negara yang sudah maju dan bahkan sudah melegalkan pernikahan sesama jenis saja masih bisa didapati ada orang yang tidak sepakat dengan LGBT, apalagi di Indonesia. Menurut pendapat penulis, poin melihatnya bukan di situ. Ikatan kekeluargaan bisa didapatkan dari mana saja dan dukungan untuk penerimaan diri itulah yang terutama. Dukungan itu bisa didapatkan dari mana saja. Dari komunitas LGBT, teman-teman LGBT atau lainnya. Yang jelas, kalau kamu merasa sendirian, maka kamu harus mencari komunitas yang bisa memberikanmu pengetahuan dan dukungan untuk mengenal dirimu. Sekali lagi, karena kamu tidak sendirian.(Fai)

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About the AuthorMulai Gaul