Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

Memanusiakan Manusia

Human beings are human beings, just treat everyone like that,” ungkap Hayley Williams kepada majalah Beat ketika ditanya mengenai perdebatan pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat. Juli 2015 yang lalu, Amerika menyatakan keterbukaannya terhadap kelompok Lesbian, Gay, Bisexual, Trans, Intersex & Queer (LGBTIQ). Ragam pikiran muncul dari berbagai kalangan, tak sedikit pula yang merayakannya dengan gembira dalam bentuk parade.

Awal bulan Maret tahun ini pula, Finlandia mengikuti jejak Amerika dan dengan bangga mengibarkan bendera untuk menegaskan solidaritas kepada kelompok LGBTIQ Sementara itu, Timor Leste pun mengumumkan penerimaan mereka terkait segala hak yang kelompok LGBTIQ punya sebagai seorang manusia. Banyak yang menitikkan air mata haru, kehilangan kata-kata untuk menggambarkan perasaan mereka.

Namun, di sisi lain, tak sedikit pula yang terang-terangan memancarkan rasa tidak suka. Kelompok LGBTIQ asal Indonesia muncul dengan takut-takut. Dengan segala diskusi dan perdebatan yang berlangsung, masyarakat Indonesia menumpahkan gelombang kebencian yang menerpa mereka dari berbagai arah. Berbagai perilaku tidak senonoh dan tidak berkeprimanusiaan dilegitimasikan dengan alasan agama. Dilansir dari BBC, Todung Mulya Lubis, pengacara dan tokoh pembela HAM terkemuka, menandaskan bahwa hak-hak komunitas LGBTIQ dan minoritas apa pun dilindungi oleh konstitusi Indonesia yang tak berdasar agama.

Menurut Yuli Rustinawati, peneliti sekaligus aktivis hak asasi manusia (HAM) dari Arus Pelangi, pada tahun 2013 tercatat 89,3 persen dari seluruh jumlah kelompok LGBTIQ yang ada di Indonesia mengalami kekerasan. Baik itu psikis, fisik, maupun budaya. Belum lama sebelum ini sempat beredar berita mengenai sejumlah perguruan tinggi yang menyatakan intoleransi mereka terhadap individu LGBTIQ . Bahkan ada perguruan tinggi yang meminta para mahasiswa baru untuk menandatangani surat pernyataan bahwa mereka tidak tergabung dalam komunitas LGBTIQ. Hal ini menimbulkan pertanyaan lagi dari masyarakat, “Mengapa di era globalisasi ini kita masih tidak bisa membedakan ranah pengetahuan dan agama, dan yang terpenting mengapa kita melarang orang lain untuk mendapat hak pendidikannya?”

Statistik ini mampu turun drastis jika kita mau bertindak. Tergabung ke dalam kaum minoritas seharusnya tidak mengurangi hak mendasar seseorang sebagai seorang manusia. HAM menutup mata pada ras, gender, etnis, agama, dan orientasi seksual. Ketika hak tidak dijalankan seperti semestinya dan mulut dibungkam, tinta pena harus tetap menikam. Baik itu memperjuangkan hak sendiri, orang terdekat, maupun kaum minoritas.

Perlakukanlah manusia sebagai seorang manusia. (@helllgah)

 

*The name’s Helga, pelajar kelas dua SMA yang hobi nonton film horror. Merangkai kata demi memenuhi hasrat hati sebagai bentuk terapi. Menaruh perhatian lebih terhadap isu diskriminasi dan pelecehan seksual. Swing both ways and definitely proud of myself!! (and you should be proud of you, too.)

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About the AuthorMulai Gaul