Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

Apakah Dunia Lebih Baik Tanpa Agama?

Oleh: Aditya Septiansyah

Jika berbicara mengenai agama, Indonesia bisa menjadi contoh yang relevan. Indonesia merupakan negara yang konservatif agamis yang dinobatkan sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Selain didominasi oleh penduduk muslim, Indonesia juga ditinggali oleh penganut agama lainnya seperti Kristen Katolik, Kristen Protestan, Budha, Hindu dan Konghuchu. Mengacu pada fakta tersebut, secara de jure, semua penduduk Indonesia beragama. Hal tersebut pun membuat ajaran-ajaran agama, terutama agama Islam, meresap ke dalam nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Perilaku masyarakat, mulai dari cara berpekspresi hingga bertindak dalam kehidupan, semuanya dibatasi oleh norma yang tidak lepas dari paham-paham keagamaan. Sebagai contoh, perempuan tidak boleh berpakaian terbuka atau memperlihatkan sebagian besar bagian tubuhnya. Norma tersebut memiliki relasi yang kuat dengan ajaran agama Islam mengenai aurat. Ajaran tersebut menjelaskan bagian tubuh perempuan sebagai hal yang sensual dan tabu sehingga tidak boleh terlihat atau diperlihatkan

Meskipun saat ini banyak perempuan di Indonesia yang nyaman dan percaya diri menggunakan pakaian yang terbuka dan mempertunjukan sebagian besar dari bagian tubuhnya, bukan berarti mereka lepas dari norma yang berlaku. Melainkan, norma tidak berimplikasi terhadap hukuman legal, tetapi  hukuman sosial seperti stigma yang siap menghukum pelakunya. Perempuan yang berpakaian terbuka  terkena stigma buruk yang membuat mereka dipandang memiliki nilai lebih rendah daripada wanita yang tidak berpakaian terbuka, sehingga hal tersebut kerap dijadikan pembenaran dalam perbuatan seperti pelecehan seksual hingga pemerkosaan.

Aplikasi norma-norma yang merupakan hasil adaptasi dari ajaran agama, terutama agama Islam,  di Indonesia tidak jarang mencederai kebebasan sebagai hak asasi manusia dan sebagai implikasinya menekan orang-orang yang cenderung tidak konformis dengan norma yang berlaku, yang pada akhirnya menjadikan mereka sebagai kaum marjinal atau minoritas yang tertindas, seperti kelompok LGBTIQ, misalnya. Dimana hak-hak mereka untuk berpegang pada orientasi seksualnya dirampas. Mereka tidak dapat hidup sesuai dengan identitas mereka, mereka tidak dapat berekspresi dengan leluasa atau memilih pasangan hidup yang diinginkan. Padahal secara historis sebelum masuknya “agama impor” (agama abrahamik yang berasal dari timur tengah, Islam dan Kristen), tradisi dan keyakinan asli pribumi cukup familiar dengan homoseksualitas ataupun transgenderisme, contohnya Warok pada tradisi Jawa dan Bissu pada tradisi Bugis.

Aplikasi norma-norma tersebut akan menjadi semakin sadis ketika ditransformasikan menjadi aturan legal. Ketika masuknya kedua “agama impor” (Islam dan  Katolik) ke Indonesia, tidak hanya hak-hak perihal ekspresi dan orientasi seksual saja yang dirampas. Tetapi hal tersebut semakin memburuk pada jaman pemerintahan Soeharto pada masa orde baru, di mana ada agama-agama pokok yang disahkan negara—Islam, Kristen Katolik, Kristen Katolik, Budha dan Hindu—dan masyarakat Indonesia harus menganut salah satu dari agama yang diakui tersebut. Agama-agama asli Indonesia seperti Sunda Wiwitan, Kejawen dan masih banyak lagi harus tersingkir. Orang-orang yang secara terang-terangan tetap menganut agama-agama tersebut pun harus rela tidak diakui secara penuh sebagai warga negara Indonesia karena tidak dapat membuat kartu tanda penduduk. Sedangkan yang terbaru pada saat ini, Mahkamah Konstitusi sedang melakukan proses uji materi Pasal 284, Pasal 285 dan Pasal 292 KUHP (Kitab Undang Undang Hukum Pidana) terkait memperluas tindakan pidana kesusilaan bagi perilaku zina dan LGBT dengan ancaman hukuman penjara lima tahun. Yang dianggap zina dalam hal ini adalah berhubungan seksual baik di luar penikahan antara lawan jenis dan hubungan seksual antara sesama jenis. Padahal hubungan seksual yang konsensual dan bertanggung jawab tidak memberikan dampak kerugian apapun baik bagi pelaku maupun sekitarnya. Tetapi  lagi-lagi, hal tersebut dianggap melanggar norma yang berlaku, dan hal ini merupakan upaya untuk mentransformasi norma menjadi aturan legal agar mayoritas semakin memiliki kontrol yang kuat atas kehidupan di dalam negara.

Apakah implikasi dari agama sedemikian buruk terhadap kemanusiaan terutama hak asasi manusia? Tentu saja tidak. Agama dapat menjadi dasar pendukung kemajuan dalam diri seseorang untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik, dengan optimisme yang diajarkan oleh agama-agama, terutama untuk berperilaku baik terhadap sesama. Dalam ajaran agama, membela agama sama dengan berbuat baik kepada manusia, semuanya diganjar pahala (indikator pengukur kebaikan manusia) yang dapat membawa manusia ke surga setelah kematian. Tetapi, pada kenyataannya manusia tidak bisa lepas dari ego dan keserakahannya sendiri. Karena keegoisan dan sikap serakah manusia, ajaran tersebut malah disalahgunakan menjadi senjata yang mematikan. Tingginya ego manusia membuat banyak orang berpikir agamanyalah yang paling baik dan benar dibandingkan dengan agama lain, sehingga orang harus memahaminya atau bahkan meyakini hal yang sama. Sedangkan keserakahan akan kekuasaan atau dominasi menjadi pemicu dari penyalahgunaan ajaran agama.

Berbicara mengenai suatu agama, tentu tidak berbicara mengenai individu melainkan kelompok. Kelompok yang memiliki tendensi untuk mendominasi agar tidak menjadi kelompok minoritas atau marjinal. Sehingga pacuan untuk mendominasi dan memilki kontrol atas kelompok lain cenderung tinggi. Sedangkan untuk mendapatkan kontrol penuh, suatu kelompok harus menunjukkan kekukasaannya. Hal ini yang membuat tidak sedikit individu, karena dorongan kelompok yang membunuh individu atau membantai kelompok lain dengan “mengkambing-hitamkan” agama. Belum hilang dari ingatan kita tragedi Poso yang terjadi karena konflik antara umat Kristen dan Islam di Poso yang berlangsung lebih dari sekali pada tahun 1998 hingga 2007, pembantaian penganut agama tertentu dan pembakaran masjid Syiah, bom bunuh diri Bali yang dilakukan oleh mereka yang menggelarkan diri mereka sebagai jihadis, hingga yang terbaru jaringan terorisme Islamic State of Islam (ISIS) yang viral ke seluruh penjuru dunia, dan Indonesia diduga sebagai salah satu franchise-nya. Tidak hanya melalui cara yang ekstrim seperti pembantaian atau terorisme, transformasi dari norma menjadi aturan legal pun tidak lain merupakan “upaya halus” kelompok dominan untuk semakin mengukuhkan kekuasaanya.

Perlu dipahami bahwa bukanlah agama yang serta merta membuat dunia menjadi sedemikian opresif, tetapi penganut agama yang tidak dapat mengalahkan egonya sehingga lebih besar daripada ajaran agama sesungguhnya, hingga membutakan matanya dan pada akhirnya mencederai kemanusiaan. Dalam hal ini agama perlu dipahami sebagai ilmu pengetahuan, yang mana ilmu pengetahuan pada hakikatnya  merupakan “pisau tajam” yang dapat menjadi berguna atau berbahaya. Selayaknya “pisau tajam” yang dapat berguna jika digunakan untuk membantu pekerjaan rumah, namun bisa berbahaya ketika menjadi sebuah senjata untuk menghilangkan nyawa seseorang. Jadi mengenai pertanyaan dari judul tulisan ini, Jawabannya, dunia belum tentu lebih baik tanpa agama, tetapi pasti akan lebih baik jika manusia dapat menurunkan ego dan menghargai perbedaan.

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About the AuthorMulai Gaul

Comment ( 1 )

  1. programmer
    programmer Anak Baru
    14 April 2017 at 9:15 pm

    dunia akan lebih baik jika manusia memiliki kelakuan yang baikk, entah itu kelakuan atas dasar agama maupun tanpa agama,