Daftar Sekarang

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Login

Daftar Sekarang

Gunakan FORM PENDAFTARAN INI! jika anda gagal mendaftarkan diri anda menggunakan tombol Create an account di bawah. Dengan mendaftar di YANA, maka anda telah menyetujui Syarat dan Ketentuan sebagai Anggota dan Penggunaan Sistem yang disediakan.

Sebuah Titik Balik

“Hallo.. Maaf udah lama nunggunya ya..,” sapa laki-laki berperawakan tegap dengan senyum simpul di wajahnya. Kami pun berjabat tangan dan masuk ke salah satu restoran keluarga di daerah Jakarta. Hari itu Firza akan berbagi kisahnya ketika ia mengetahui bahwa dirinya terinfeksi HIV.

Firza merupakan seorang lelaki Biseksual yang kini tengah bekerja di pemerintahan dan juga menjadi seorang volunteer di salah satu yayasan yang fokus di isu HIV & AIDS di Jakarta.

Stigma terhadap penderita HIV masih sangat banyak di dalam masyarakat, tidak terkecuali masyarakat di Jakarta. “Di Jakarta, masih banyak stigma-stigma salah kaprah dari masyarakat terhadap mereka yang terinfeksi HIV,” tutur Firza. Dia mengatakan bahwa masih banyak orang yang takut untuk sekadar berjabat tangan dengannya ketika tahu bahwa dia adalah seorang yang terinfeksi HIV. Hal ini terkadang sering membuat Firza bersedih.

Pada awalnya, Firza tidak tertarik untuk memeriksakan status HIV-nya, “padahal semua orang harus tahu status mereka apa, Pemeriksaan itu penting banget,” namun lagi-lagi dalam struktur masyarakat kita, hal-hal seperti itu masih menjadi sebuah gunung es yang sangat besar, yang tidak mudah dipecahkan.

Firza akhirnya mengetahui status HIV-nya reaktif, ketika ia menghubungi seorang teman via media sosial yang menginformasikan tempat untuk melakukan VCT (Voluntary Conseling and Testing) secara mandiri, Firza pun memeriksakan dirinya dan awalnya status Firza adalah non-reaktif, namun dua tahun kemudian status Firza berubah menjadi reaktif. Di dalam tubuhnya terinfeksi HIV positif. Tentu saja hal itu membuat Firza sangat down dan pernah terlintas di pikirannya juga untuk mengakhiri hidup. Namun beruntung, ada Support Group yang menarik Firza dari jurang terjal itu dan mendukung Firza dalam menghadapi hidup sebagai orang yang terinfeksi HIV.

“Kamu itu gak sendiri, banyak teman-teman yang sebaya yang bisa saling membantu satu sama lain. Maka dari itu saya pertama kali saya kenal dengan yayasan yang menanggulangi HIV dan AIDS ini dari Peer support juga dari situ saya tahu bagaimana menghadapinya.”

Firza selalu menekankan betapa pentingnya memeriksakan status HIV, apalagi orang-orang yang melakukan hubungan seks berisiko. “Lebih baik mencegah kan?” ucapnya. Ia terkadang miris melihat beberapa orang yang memakai media sosial, terlebih dating apps, yang masih tidak peka terhadap betapa pentingnya menegtahui status HIV dan juga safe sex untuk hubungan seks beresiko.

Saat ini Firza bersama rekan-rekan di yayasan tempat dia bernaung, tengah berjuang untuk meningkatkan awareness dalam komunitas LGBT untuk memeriksakan status HIV mereka. Firza pernah berada di posisi mereka, Firza hanya tidak ingin teman-teman mengalami hal yang sama dan mulai lebih untuk menyayangi kesehatan diri masing-masing.

Menurut Firza, virus yang berada di dalam tubuhnya ini merupakan salah satu cara Tuhan untuk berkomunikasi denganku, “Aku pun bisa membantu teman-teman yang lain, selalu ada hikmah yang dapat kita ambil dari semua ini.” Menjadi bagian dari LGBT bukan sebuah hal yang menakutkan. kita tidak sendiri. Karena kita ada untuk selalu bersama-sama menghadapi apa yang ada di depan kita.(Elm)

Reaksi kamu buat postingan ini?
  • Kagum
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut

About the AuthorMulai Gaul